21/05/18

Beberapa istilah etika dan penjelasannya secara singkat

       Pada postingan sebelumnya saya pernah menulis mengenai Etika dan moral, DISINI beberapa bulan yang lalu. Nah pada kesempatan kali ini khusus menjelaskan definisi atau istilah-istilah yang berkaitan dengan etika, sebagai kelanjutan dari postingan yang terdahulu. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, mengenai  pengertian etika. Etika berasal dari bahsa Yunani “Ethos” yang artinya watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Disini saya tambahkan pengertian dari Etika.

Etika menurut para ahli :

Aristoteles : Etika adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari suatu problema tindakan manusia, dan mendefinisikan etika menjadi 2 pengertian yaitu: Terminius Technicus dan Manner and Custom.

Soegarda Poerbakawatja  :  Etika adalah Ilmu yang memberikan arahan, acuan, serta pijakan pada suatu tindakan manusia.

K. Bartens : Etika adalah nilai dan norma moral yang menjadi suatu acuan bagi manusia baik individual maupun kelompok dalam mengatur tingkah laku.

H.A.Mustafa : Etika sebagai ilmu yang menyelidiki terhadap suatu  perilaku baik atau buruk dengan memerhatikan perbuatan manusia sejauh apa yang diketahui oleh akan serta pikiran manusia
.
DR. James J. Spillane SJ : Etika adalah mempertimbangkan suatu tingkah laku manuis di dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan moral. Berhubungan dengan akal budi secara objektif guna menentukan benar atau salah serta tingkah laku seseorang terhadaplainnya.

W.J.S. Poerwadarminta : Etika adalah ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia yang dilihat dari sisi baik dan buruknya yang sejauh mana dapat ditentukan oleh akal manusia.
Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.

Baiklah berikut ini beberapa  istilah dan definisi dalam pemikiran etika :

   

Ø      Etika Nichomachean, menurut Aristoteles  (382-322 SM) atau Etika Nikomakea memusatkan perhatian pada pentingnya membiasakan berperilaku bajik dan mengembangkan watak yang bajik pula. Aristoteles menekankan pentingnya konteks dalam perilaku etis, dan kemampuan dari orang yang bajik untuk mengenali langkah terbaik yang perlu diambil. Aristoteles berpendapat bahwa eudaimonia adalah tujuan hidup, dan bahwa ucaha mencapai eudaimonia, bila dipahami dengan tepat, akan menghasilkan perilaku yang bajik.

Ø       Etika Hellenistik (Aristoteles), di era kerajaan Kaisar Aleksander Agung (356-323 SM) ; Merupakan rangkaian tambahan pada pandangan Aristoteles tentang pemenuhan dan kebahagiaan manusia. Filsafat helenisme berasal dari filsafat hellens (nama orang) termasuk kaum zabaniyah, yang mencari kebenaran melalui akal. Filsafat Hellenisme menurut pengertian etika adalah “Manusia hendaknya mengikuti saja suratan takdir dan penentuan alam baginya. Dengan demikian, ia akan mencapai harmoni dengan alam yang akan membawanya kepada kebahagiaan.

 
Ø      Determinisme Ekonomi,  menurut Karl Marx  (1818-83); Marx menyatakan sejarah sebagai serangkaian masa yang dibedakan hanya oleh “mode produksi” ekonomi yang langsung membagi kelas-kelas dan perjuangan yang tida terelakkan di antara mereka.

Ø     Utilitarianisme, teori yang digagas Jeremy Bentham (1748-1832); serta  oleh muridnya yaitu John Stuart Mill (1806-1873),  Rudolph Ritter von Jhering (1818-1892);  Menyatakan bahwa tindakan dan kebijakan perlu dievaluasi berdasarkan manfaat dan biaya yang dibebankan pada masyarakat. Jeremy Bentham sering dianggap pendiri utilitarianisme tradisional. Bentham berusaha mencari dasar objektif dalam membuat keputusan yang mampu memberikan norma yang dapat diterima publik dalam menetapkan kebijakan dan peraturan sosial. Dasar yang objektif adalah dengan melihat pada berbagai kebijakan yang dapat ditetapkan dan membandingkan manfaat serta konsekuensi-konsekuensinya. Tindakan yang tepat dari sudut pandang etis adalah dengan memilih kebijakan yang mampu memberikan utilitas yang besar. Secara singkat, prinsip utilitarian menyatakan bahwa :  Suatu tindakan dianggap benar dari sudut pandang etis jika dan hanya jika jumlah total utilitas yang dihasilkan dari tindakan tersebut lebih besar dari jumlah total utilitas oleh tindakan yang dapat dilakukan.

Ø     Pluralisme, menurut John Stuart Mill (1806-73); Masyarakat yang sehat adalah masyarakat dengan beragam individu dan gaya hidup.  diilhami oleh modernisme atau liberalisme agama. Ada faktor – faktor lain yang memunculkan liberalisme agama. Untuk memahami lebih jauh, ada baiknya jika kita memahami terlebih dahulu secara garis besar perkembangan sejarah dan prinsip-prinsip pemikiran liberalisme agama dan politik.


Ø    Skeptisisme Radikal, menurut David Hume (1711-76); Menurutnya, semua pengetahuan pada dasarnya harus melalui indra kita. Dalam situasi apa pun, tindakan atau kebijakan yang “benar” adalah yang memberikan manfaat paling besar atau biaya paling kecil (bila semua alternatif hanya membebankan biaya  bersih). Sebuah prinsip moral yang mengklaim bahwa sesuatu dianggap benar apabila mampu menekan biaya sosial (social cost) dan memberikan manfaat sosial (social benefit). Dalam pemikiran Hume ada skeptisme ekstrem radikal, bentuk keraguan ekstrem atas kemungkinan bahwa kepastian dalam pengetahuan merupakan hal yang biasa dicapai. Salah satu konsep mendasar tentang filsafat sains adalah empirisme, atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita.


Ø     Perspektivisme, menurut Richard Mervyn Hare (1919-2002); Sebagai kelanjutan teori FriedrichWilhelm Nietzsche (1844 –1900 seorang tokoh pertama dari eksistensialisme modern yang ateistis. Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang ‘kebenaran’ atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai “sang pembunuh Tuhan” (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zamannya (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan).


Etika Holistik.
      Seorang Utilitarian tidak akan keberatan mengikutsertakan tumbuhan, bahkan tanah, batu dan air ke dalam lingkaran moral, mengingat hidup manusia yang mereka dukung. Etika Holistik mengajukan pentingnya moral pada satuan tidak bergerak seperti batu dan pohon atas dasar-dasar tertentu, dengan mengutip nilai intrinsik mereka atas “keragaman”,kesalinghubungan”, dan “kekayaan ekologi”, semua nilai kegunaan mereka pada manusia atau makhluk hidup lain.

Prinsip Antropik.
      Dikembangkan oleh para kosmolog dewasa ini. Prinsip ini menyatakan bahwa jagat raya berevolusi secara spesifik untuk memberikan kesempatan bagi perkembangan kehidupan manusia~makhluk yang berkesadaran. Jika ini benar, manusia sangat beruntung telah selamat dari berbagai keganjilan universal. Oleh karena itu ada beberapa anggapan bahwa : Ancaman terbesar keselamatan kita adalah diri kita sendiri. Kita bisa membinasakan diri kita dan bumi kita dengan mudah melalui gabungan kebodohan yang egois dan teknologi yang mematikan (contohnya tekonologi nuklir), seperti yang pernah terjadi. Kita bisa menghadapi kenyataan bahwa kita hanyalah manusia dengan daya tangkap “pengetahuan” terbatas, yang kita dapatkan lewat peralatan persepsi dan konsepsi manusiawi, mungkin ada harapan untuk kita.  Etika masih merupakan sesuatu yang bermanfaat untuk ditelusuri.


Demikianlah untuk postingan kali ini, semoga berguna.









Sumber :   
-  Mengenal Etika, For Beginners (Dave Robinson dan Chris Garrat)
-  Pengertian.net
-  academia.edu