18/12/17

Politik dan kekuasaan ajaran Machiavelli (bagian 2)

        Untuk postingan saat ini, masih tentang : Politik serta kekuasaan ajaran  Machiavelli, baiklah akan saya lanjutkan dari postingan sebelumnya. Dilihat dari besarnya kekuasaan, ada dua tipe penguasa. Pertama, penguasa yang bertindak sebagai penguasa tunggal dan kedua, penguasa yang kekuasaannya berbagi dengan para bangsawan. Wewenang penguasa tunggal sangat besar dan bersifat mutlak. Ia mempunyai kekuasaan untuk memilih dan memecat para menteri pimpinan angkatan bersenjata dan seluruh bawahannya, tanpa ada yang berarti mengganggu gugat. Ia berhak menunjuk bawahannya memerintah sebuah daerah namun sepenuhnya mereka tetap tunduk pada kekuasaannya. Penguasa tipe kedua senantiasa harus bersaing dengan pengaruh para bangsawan yang mendapat gelarnya dari tradisi turun-temurun. Para bangsawan tersebut umumnya mempunyai wilayah kekuasaan dan rakyatnya sendiri, walaupun tunduk pada penguasa pusat, wewenang mereka tidak bisa dicabut begitu saja. Negara yang dipimpin oleh penguasa tunggal akan sulit ditaklukan. Namun bila berhasil menaklukan akan mudah mempertahankannya. Sebaliknya, merebut negara yang dipimpin oleh penguasa yang mempunyai banyak bangsawan bawahan tidaklah sulit. Yang sulit adalah mempertahankannya, sebab akan terus menerus menghadapi pemberontakan.
       Alexander Agung (356-323), Raja Macedonia, harus bersusah payah menundukkan Kerajaan Persia dalam usahanya menguasai Asis. Selama 10 tahun lebih, tanpa mengenal lelah, Alexander menyerbu benteng bangsa Persia. Baru pada sekitar 334 SM, Kerajaan Persia dapat dikalahkannya. Ketika itu Kerajaan Persia dipimpin oleh Darius, yang naik tahta pada 336 SM. Darius adalah tipe penguasa tunggal. Takheran bila Alexander harus bersusah payah merebut Persia, dan harus menghancurkannya sama sekali untuk menguasainya. Setelah memperoleh kemenangan, dan Darius wafat, Alexander dapat memerintah daerah tersebut dengan aman. Para pewaris Alexander juga tidak menemui kesulitan besar memerintah daerah itu. Ancaman terbesar bagi para pewaris kerajaan justru datang, bila mereka tidak dapat meredam ambisi dan saling bersaing sendiri. Sebaliknya dengan di Prancis. Kekuasaan para bangsawan di sana sangat besar dan telah berlangsung lama. Mereka seringkali memberontak dan menggulingkan para penguasa di sana.










 Alexander The Great



Merebut Kekuasaan

     Ada beberapa cara yang bisa ditempuh orang untuk menjadi penguasa yaitu karena nasib mujur, mengandalkan kemampuan (senjata) sendiri, lewat jalur konstitusi (Pemilu), dan menggunakan cara licik dan kejam. Dari semua itu, cara manakah yang terbaik ?. Para pemimpin di kota Ionia, juga Hellespontus, Yunani, adalah contoh penguasa yang mengandalkan nasib mujur. Mereka menjadi penguasa karena dipilih dan diangkat oleh Darius, raja Persia yang telah menundukkan daerah-daerah tersebut. Mereka sebenarnya hanya menjadi penguasa boneka, karena tujuan Darius mengangkat mereka adalah demi keamanan dan kemuliaannya sendiri. Hal yang sama akan terjadi pada para penguasa yang memperoleh kedudukannya dengan menyuap angkatan bersenjata. Mereka tidak sanggup berkutik menghadapi para petinggi militer. Penguasa yang hanya mengandalkan nasib mujur, kekuasaannya sangat rapuh. Mereka cepat sampai di puncak kekuasaan, namun secepat itu pula akan kehilangan. Kekuasaan mereka ibarat pohon yang akarnya belum berkembang baik. Sekali topan datang, akan akan tercabut dan tumbanglah pohon itu. Ingatlah, hanya orang-orang dengan bakat besar yang dapat mempertahankan kekuasaan yang diperolehnya lewat nasib mujur. Romulus, Cyrus dan Theseus, penguasa yang mengandalkan kemampuannya sendiri. Selama mereka berkuasa, negaranya menjadi makmur dan terkenal. Untuk menjadi raja Roma, Romulus harus meninggalkan Alba dan waktu bayi dibuang ke hutan bersama saudara kembarnya Remus. Menurut dongeng, mereka kemudian dibesarkan oleh seekor serigala. Baru setelah ia membangun Kota Roma, dan menghimpun pasukan untuk mengamankannya. Cyrus bersusah payah mengobarkan pemberontakan rakyat Persia, yang telah lemah dan tidak berdaya akibat masa damai yang berlangsung lama sekali, untuk melawan kerajaan Medes. Baru setelah itu ia menjadi raja. Theseus harus menghadapi perang yang panjang dan memelahkan untuk menyatukan Athena, dan kemudian menjadi raja di sana. Rahasia sukses Romulus, Cyrus dan Theseus terletak pada kemampuan meraka memadukan kekuatan senjata dengan nasib mujur. Bagi mereka nasib mujur adalah kemampuan memanfatkan peluang. Sebesar apa pun peluang yang datang, bila tidak diperjuangkan akan sia-sia. Sebaliknya, perjuangan dengan bekal persenjatan paling kuat sekalipun, akan cepat padam bila tidak didahului oleh peluang. Kemujuran dan kemampuan senjata sama bergunanya bagi seorang calon penguasa. Keduanya dapat meredakan kesuitan yang mugkin timbul saat baru menjadi penguasa. Yang membedakan adalah ketika mereka ingin mempertahankan kekuasaan itu. Penguasa yang semakin tidak mengandalkan nasib mujur akan semakin kuat kedudukannya. Penguasa yang mengandalkan kekuatan senjata dan kemampuannya sendiri, memang susah payah memperoleh kekuasaan, namun akan mudah untuk mempertahankannya. Itulah yang terjadi di Roma pada masa pemerintahan Romulus. Keadaannya aman tentram dan rakyatnya makmur. Begitu pula Athena di masa Thesaus, dan Persia ketika dipimpin Cyrus.

       Seseorang bisa juga menjadi penguasa karena mendapat dukungan dari rakyat. Cara ini biasa berlangsung di negara Republik, dan diatur oleh undang-undang, sehingga disebut kekuasaan konstitusional. Kesuksesan cara ini bukan terletak pada kedudukan atau pun nasib mujur seseorang, tetapi sepenuhnya tergantung pada kelihainnya menggalang dukungan masyarakat. Kedudukan dan kepentingan bangsawan dan rakyat berbeda, mereka umumnya sulit bersatu dan cenderung selalu terlibat konflik. Oleh sebab itulah, sebelum mencari dukungan seorang calon penguasa harus mengetahui sevara peris karakter kedua golongan tersebut. Ketika merasa tidak dapat melawan rakyat yang jumlahnya banyak, para bangsawan akam memilih salah satu dari mereka untuk menjadiopeguasa. Hal  yang sama akan dilakukan rakyat, bila mereka merasa ditindas oleh para bangsawan. Masing-masing golongan itu mempunyai peluang untuk menang, dan menjadi penguasa. Siapa yang akan menang, tergantung pada golongan mana yang paling mahir menggunakan kesempatan. Namun yang jelas, para calon penguasa harus memperhitungkan dengan seksama resiko yang harus ditanggung, bila membela kepentingan salah satu golongan. Raja Nabis dan Sparta berhasil menahan gempuran bertubi-tubi daru tentara Yunani dan Romawi yang terkenal gagah perkasa. Raja Nabis beruntung karena ia dicintai dan didukung sepenuh hati oleh rakyatnya. Bila terjadi kekacauan di dala negeri, ia tinggal menindak beberapa orang bawhannya dan keadaan pun menjadi tenang kembali. Bahaya terbesar bagi penguasa yang mendapat dukungan penuh dari rakyatnya adalah bila kekuasaan yang terbatas mulai mereka gunakan secara mutlak. Sebaliknya, penguasa yang memilih dekat dengan bangsawan harus siap dengan berbagai kesulitan. Sebab, para bangsawan akan selalu merasa sederajat dengan penguasa yang didukungnya. Mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk bertindak licik daripada rakyat, karena memiliki harta dan kekuasaan sendiri. Oleh sebab itu, penguasa harus senantiasa cermat terhadap tindak-tanduk para bangsawan bawahannya. Mereka umumnya ada yang bersikap menggantungkan diri atau sebaliknya sama sekali mandiri. Terhadap yang tergantung, asal mereka tidak tamak, penguasa sebaiknya menghormatinya. Terhadap bawahan yang bersikap mandiri, penguasa harus memberi perhatian khusus dan mengetahui alasan sikap mereka. Penguasa yang terus menerus menggunakan kekerasan akan menerima nasib naas, dikecam dan dibenci rakyatnya. Walaupun tidak terjadi gejolak yang besar, namun tekanan penderitaan yag diterima rakyat berlangsung setiap hari, terus berkembang dan makin lama makin jelas. Rakyat yang sudah tidak dapat menahan beban penderitaan akan menggalang kekuatan untuk menggulingan penguasanya. Penguasa yang tangguh tahu kapan ia harus menggunakan kekerasan. Ia mampu mengukur dengan tepat penderitaan yang ditanggung rakyatnya. Ia tidak akan bertindak kejam, di saat rakyat sedang dilanda kesuitan besar. Sebab, ia tahu sekali saja ia melakukannya, segala kebaikannya di masa silam akan silupakan dan rakyat tidak akan hormat lagi.



Mempertahankan Kekuasaan

      Dasar kekuatan negara adalah hukum yang berwibawa dan angkatan bersenjata yang kuat. Idealnya, kedua unsur tersebut ada di sebuah negara. Tapi bila situasi belum memadai, seperti di negara-negara yang baru berdiri, unsur manakah yang lebih dahulu harus dibangun oleh penguasa ?. Sebaiknya penguasa lebih dahulu membangun angkatan bersenjatanya. Jalan ini harus diambil karena hukum tidak akan dipatuhi, bila tidak didukung oleh kekuatan militer. Bila di sebuah negara terdapat tentara yang kuat, bisa dipastikan hukum yang ada akan berjalan baik. Hal inilah yang terjadi di Kerajaan Roma dan Sparta. Kedua kerajaan itu dapat bertahan lama karena memiliki tentara yang tangguh. Ketangguhan itu berakar dari disiplin yang tinggi, yang kemudian berbuah pula pada hukum dan tata cara pelaksanaannya di kedua negara tersebut. Negara yang kuat bisa diukur dari kemandiriannya pada saat menghadapi berbagai ancaman yang datang dan menyelesaikan situasi kritis. Bentuk-bentuk ancaman bisa berupa serangan musuh dari luar atau persekongkolan dari dalam yang ingin menggulingkan kekuasaan. Makin kecil bantuan dari pihak-pihak lain untuk menyelesaikan sistuasi krisis tersebut, makin mandiri negara tersebut. Untuk mencapai negara yang mandiri, sebuah negara harus memenuhi salah satu syarat berikut, memiliki angkatan bersenjata sendiri yang kuat atau mempunyai harta kekayaan yang besar untuk menghimpun pasukan bayaran. Kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Louis XII, pasukan infantri Prancis yang tangguh itu akhirnya dibubarkan Oleh Louis XII, putra Charles VIII. Louis XII menggantikan pasukannya dengan pasukan berkuda bayaran dari Swiss yang terkenal handal. Semangat pasukan Prancis langsung ambruk, karena harus berperang bersama pasukan asing.Tak lama kemudiam Prancis berhasildiusir oleh Julius II dari wilayah Italia. Dibanding pasukan bayaran, pasukan bantuan justru lebih berbahaya. Mereka sangat potensial untuk merebut kekuasaan. Penguasa yang ingin menggunakan pasukan sebaiknya menuruti nasihat berikut. Bila pasukan bantuan kalah berarti Anda juga menanggung kekalahan. Tapi bila mereka menang, Anda tidak bisa berlega hati, karena mereka justru bisa mengancam kedudukan Anda. Penguasa yang melalaikan seni perang dan tidak mengenali daerah kekuasaannya dengan baik akan hancur.
       Untuk mengamankan kedudukannya, tentara Roma membangun benteng pertahanan disetiap daerah kekuasaannya. Di wilayah-wilayah yang diperkirakan bakal sering bergolak, mereka menempatkan panglima perang untuk memerintah disana. Cara ini sangat efektif karena mereka dapat mengetahui perubahan keadaan di daerah tersebut secara cepat dan tepat. Bibit-bibit persoalan yang muncul akan dapat segera diatasi.

     Penguasa yang tangguh akan menunjuk orang lain untuk melaksanakan tindakan-tindakan yang berdampak kurang baik bagi rakyat maupun bawahannya, dan melakukan sendiri tindakan yang mendatangkan pujian.  Bila para Raja Prancis harus menghadapi ambisi para bangsawan dan rakyat, maka para Kaisar Roma harus menghadapi kekejaman dan kerakusan tentara. Bila hal tersebut yang terjadi, maka penguasa sebaiknya memperhatikan tunutan pihak militer, seperti yang dilakukan oleh Severius (berkuasa 222-235). Kaisar Severius adalah seorang yang gagah berani dan sukses memerintah Roma sampai akhir hayatnya. Hal tersebut terjadi karena ia menjaga hubungan baik dengan kelompok yang paling berpengaruh, yaitu militer. Rakyatnya yang tertindas dan lemah takut untuk melawannya

      Penguasa akan dijunjung tinggi, bila selalu bertindak tidak tanggung-tanggung, menjadi sahabat sejati atau sekalian musuh bebuyutan.  Itulah yang dialami oleh Ferdinand dari Aragon, Raja Spanyol. Ferdinand secara berturut-turut menyerbu dan menguasai Granada, sebagian wilayah Afrika dan Italia Selatan. Ia tersohor karena mampu meletakkan dasar-dasar kekuatan militer negaranya. Hal yang juga penting untuk diperhatikan penguasa adalah saat memilih pare menteri mereka. Penguasa akan dipandang bijaksana, bila para menterinya cakap dan setia. Tetapi bila sebaliknya yang terjadi, maka penguasa akan dikecam dan dicemooh. Penguasa yang baik sanggup membedakan mana kebijaksanaan dan mana nasihat palsu, dan yang terpenting ia akan mengambil keputusan sendiri. Ia akan membiarkan orang salah mengira, bahwa pelaksanaan keputusannya yang bijak adalah berkat nasihat orang-orang terdekatnya. Padahal, sebenarnya sebaik apa pun nasihat itu dan dari mana pun datangnya, akan dilaksanakan tergantung pada keputusannya.



Demikianlah postingan untuk saat ini, semoga bermanfaat.

20/11/17

Politik dan kekuasaan menurut ajaran Machiavelli, serta pendapat beberapa tokoh lainnya



     Sebenarnya banyak pengertian mengenai politik, tetapi disini saya artikan definisi tentang politik : Politik (dari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara), adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Pengertian lainnya; Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Terlanjur dipakai untuk segala pikiran, sikap, dan tindakan kotor serta kejam dalam politik.

Kemashuran yang salah kaprah
      Niccolo Machiavelli selama hampir 500 tahun dianggap sama jahat dan kejamnya dengan Mephistopeles, raja segala setan dalam legenda Faust. Namanya sampai diabadikan dalam kamus berupa kata sifat machiavellian. Sifat ini mencakup pikiran, sikap, dan tindakan licik yang kejam, penuh tipu daya, dan tak kenal kasihan. Ajarannya dianggap mengesampingkan segala nilai moral, atau dikenal sebagai “tujuan menghalalkan segala cara”. Namun, kemashuran ini betul-betul salah kaprah. Yang bersifat machiavellian sebenarnya bukan Niccolo Machiavelli sendiri, melainkan para penguasa yang ditelitinya. Pada 1559, 32 tahun setelah Mavhiavelli wafat, pembesar gereja memasukkan Il Principe dalam daftar buku terlarang yang dikenal sebagai Tridentine Index.




       Banyak tokoh yang mencela Machiavelli dan karya-karyanya. Menurut Leo Strauss : “Ajaran yang tidak bermoral. Machiavelli memang seorang pemikir titisan setan”. Pemahaman tentang Il Principe semakin salah kaprah, terutama karena buku itu terlanjur dianggap sebagai buku pegangan setengah resmi para diktator terkemuka dunia seperti: Hitler, Stalin, Lenin dan Mussolini.
     Menurut Francis Bacon (filsuf, pengacara, dan ahli bahasa) : Machiavelli mengemukakan tanpa tedeng aling-aling apa yang benar-benar dilakukan oleh para penguasa, bukan yang seharusnya mereka lakukan. Hal itu hanya mungkin dilakukan jika para penguasa memahami hakikat kejahatan serta mampu memadukan kecerdikan ular dan ketulusan merpati. Tanpa paduan tersebut, keutamaan (virtue) hanyalah akan membuka kebohongan, tetapi tak mampu memberikan perlindungan.
   Menurut Van Ranke (1795-1886), sejarawan terkemuka Jerman : Setelah membaca bab terakhir Il Principe apa yang Machiavelli anjurkan dalam buku tersebut didorong oleh tekad mencapai persatuan Italia daripada sekedar mengabaikan nilai-nilai moral.
     Pengaruh gerakan Renaissance segera menyebar dengan cepat ke Italia Utara, lalu ke seluruh daratan Eropa, terlebih setelah Akademi Plato didirikan oleh Lorenzo Sang Cemerlang (1449-1492), pertengahan abad 15. Akademi ini kemudian berkembang menjadi pusat studi pemikiran Yunani dan Romawi klasik paling penting saat itu, dan jadi tempat belajar para sarjana seluruh Eropa.

   Ketika Firenze mencapai puncak kemakmuran, Niccolo Machiavelli lahir pada 3 Mei 1469. Ayahnya, Bernardo Machiavelli adalah seorang pengacara keturunan bangsawan. Bernardo banyak bergaul dengan para pemikir humanis di Firenze dan mengoleksi karya para tokoh klasik aliran itu seperti, Titus Livius, Cicero, Boccacio hingga Petrarch. Sejak usia 12 tahun, Niccolo Machiavelli dididik oleh salah seorang sahabat ayahnya, Paolo da Ronciglione, tokoh pemikir humanis di Firenze. Setelah itu ia dikirim ke Universitas Firenze untuk menyelesaikan studinya.  Suasana tenang dan damai di Firenze ternyata tidak bertahan lama. Sejak 1489, Girolamo Savonarola, biarawan Ordo Dominican, mulai memimpin gerakan perlawanan. Gerakan ini dengan keras mengecam pemerintahan “tangan besi” Lorenzo II Magnifico. Savonarola dan paa pengikutnya menganggap Firenze telah dilanda kemerosotan moral yang parah, dan masyarakat disana terlalu mengagungkan hal-hal keduniawian. Mereka bercita-cita mengembalikan Firenze berdasar pada kesucian nilai-nilai agama. Akhirnya Savonarola berhasil menggulingkan kekuasaan wangsa Medici, pada tahun 1495. Firenze pun dipimpin oleh pemerintahan teokratis. Masuknya pasukan perang Prancis di Italia pada 1494 dan berikutnya pada 1496, menjadi titik balik bagi kemajuan dan perdamaian wilayah semenanjung itu. Diduga, motif serangan itu demi kemegahan diri Raja Prancis, Charles VIII (1470-1498). Serbuan pasukan Prancis hampir tidak mengalami kesulitan berarti karena didukung beberapa penguasa di Italia.
       Pada 1500, Italia kembali diserang oleh Raja Louis XII (1462-1515), pengganti Charles VIII. Bersamaan dengan itu, pasukan Spanyol yang dipimpin Raja Aragon menyerbu pula ke Napoli. Pasukan Prancis dan Spanyol berhasil menaklukan wilayah Lombardia, kemudian Napoli. Pada 1501 Spanyol dan Prancis terlibat perang dan saling berebut wilayah kekuasaan. Akibatnya, Italia menjadi wilayah paling panas, penuh dengan perang , kekerasan, dan darah selama 50 tahun lebih. “Perimbangan kekuatan” yang berhasil dijalankan negara-negara kota Italia lewat Perjanjian Lodi, seketika hancur. Di mata Machiavelli, nasib tragis bangsa Italia setelah dikuasasi Prancis dan Spanyol terutama karena mereka tidak membangun pasukan bersenjata sendiri dan terlalu percaya dengan jalan diplomasi. Pada 1498, pemerintahan teokratik Savonarala berhasil digulingkan oleh Piero Soderini, salah seorang sahabat Machiavelli. Firenze berubah menjadi negara Republik. Atas jasanya ikut membentuk angkatan bersenjata di Firenze, Maciavelli diangkat sebagai Sekretaris Dewan Republik, merangkap Kanselir Republik Firenze. Tugas utama Machiavelli dalam Dewan Republik, selain mengurus administrasi dalam negeri, adalah menyiapkan Komisi Sepuluh untuk Urusan Perang. Komisi ini bertanggung jawab  atas masalah keamanan Firenze, mengurus pasukan perang Republik Firenze dan membina hubungan baik dengan negara tetangga. Sehubungan dengan tugasnya itu, Machiavelli kemudian melakukan serangkaian kunjungan diplomatik ke berbagai negara tetangga. Pada 1500 machiavelli bertemu dengan raja Louis XII, Raja Prancis, untuk meminta bantuannya mengalahkan Pisa. Selanjutnya, Machiavelli juga menjalin hubungan baik dengan Paus Julius II, Maximilian (1459-1519) Kaisar Romawi Suci, Raja Ferinand (1452-1516) dari Spanyol hingga para penguasa Turki. Dari seluruh tokoh yang ditemuinya selama bertugas sebagai Kanselir, yang paling dikagumi Machiavelli adalah Cesare Borgia (1476-1507), putra Paus Alexander VI).           
Sosok Penguasa dalam Politik Kekuasaan
       Sekilas, isi Il Principe terasa rumit namun sebenarnya sederhana saja. Seluruh isi buku ini sesungguhnya ingin menunjukkan bagaimana seorang penguasa harus bertindak untuk mrebut, mempertahankan, dan menghindari hilangnya kekuasaan. Penguasa yang baik, menurut Il Principe, harus mampu memadukan watak singa dan rubah. Ia harus sekuat singa sekaligus selicik rubah, sebab singa disegani karena kekuatannya namun sering tidak waspada bila mengahadapi perangkap, sedangkan rubah sanggup menghadapi perangkap tapi tidak dapat membela diri bila diserang serigala. Sejarah mebuktikan penguasa yang semata mengandalkan kekuatan, akan mudah runtuh oleh tipu daya dan kelicikan. Sebaliknya, bagi penguasa yang pandai bertipu daya, peluang untuk menang masih terbuka lebar. Penguasa yang bersifat rubah akan berlagak takluk pada penguasa yang punya kekuatan besar. Namun di saat yang tepat, ia akan berbalik menghancurkannya. Cara inilah yang dipakai oleh Paus Alexander VI ketika mengusir pasukan Prancis dari Italia. Ajaran tentang penguasa ideal tersebut bersumber dari kisah Achilles, sang pahlawan dalam legenda Yunani Kuno. Dalam kisah itu diceritakan bagaimana Achilles menjadi raja yang digdaya setelah menimba ilmu perang pada Chiron, mahluk setengah manusia setengah kuda. Patuh pada hukum dan moral dianggap sebagai suatu keharusan dan cara yang paling terpuji bagi penguasa, namun cara ini terbukti  kerap tidak memadai untuk mengatasi kesulitan. Oleh sebab itu, penguasa yang ingin sukses, harus melengkapi diri dengan cara licik dan kejam, yang biasa dipakai binatang dalam mempertahankan hidupnya, dan sanggup menerapkan cara-cara tersebut dengan tepat. Penguasa tidak boleh menyimpang dari sifat-sifat baik, tetapi jika perlu ia boleh memakai cara licik dan kejam. Ajaran Machiavelli tersebut sesuai dengan pandangan umum masa Renaissance bahwa manusia dapat menentukan nasibnya sendiri. Seseorang bisa berhasil dalam hidupnya bila mengandalkan virtue (keutamaan), dan tidak lagi berharap pada fortune (kemujuran). Keunggulan virtue atas fortune tersebut, dilambangkan oleh Machiavelli sebagai pria perkasa mampu memikat bahkan menundukkan seorang wanita. Virtue dalam Il Principe bisa diartikan sebagai sikap aktif penguasa demi efisiensi politik. Faktor penentu bagi tegak dan kukuhnya kekuasaan adalah kemampuan dan ketrampilan penguasa. Penguasa yang baik harus mampu mengelola kemujuran, dan menganggap kemujuran tak lebih dari kesempatan (chance).



Negara Kekuasan dan Negara Kerakyatan
       Ada dua jenis pemerintahan yang umum berlangsung, Kerajaan dan Republik. Ciri utama negara kerajaan adalah kekuasaannya yang turun temurun dan berlaku seumur hidup. Oleh sebab itulah, Raja umumnya mempunyai kekuasaan yang mutlak dan tak terbatas. Karena itulah, negara yang berbentuk kerajaan sering disebut negara kekuasaan. Sebaliknya, ciri negara republik adalah kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat (respublica), oleh sebab itu disebut negara kerakyatan. Kekuasaan penguasa di negara republik bersifat terbatas, tidak seumur hidup dan diatur dalam konstitusi. Para penguasanya dipilih berdasarkan kemampuan dan keutamaan, bukan berdasarkan hubungan darah. Di Italia juga ada bentuk negara yang sangat khas, bukan Kerajaan maupun Republik, yaitu Negara Kepausan. Pemimpinnya disebut Paus. Kekhasan negara ini karena wewenangnya berdasarkan nilai-nilai agama Katolik, sehingga sering disebut juga Negara Gereja. Il Principe (Politik Kekuasaan) hanya membahas seluk beluk kekuasaan di negara kerajaan. Seluk beluk negara Republik, yang merupakan pilihan pribadi Machiavelli, dibahas dalam bukunya yang lain, Discorsi (Politik Kerakyatan). Lika liku perkembangan kekuasaan Negara Kepausan hanya sedikit dibahas dalam kedua buku tersebut, walaupun sebenarnya Machiavelli tidak bersimpati dengan berbagai tidak-tanduk Paus. Alasannya sederhana saja. Saat itu Paus yang berkuasa adalah Leo X, salah seorang keturunan Medici. Machiavelli khawatir rencana tersembunyinya dibalik pengiriman Il Principe, akan gagal bila mengulas panjang lebar tentang Negara Kepausan.
     Negara kerajaan terbagi atas kerajaan warisan dan kerajaan baru. Kerajaan warisan umumnya telah berdiri sejak lama dan penguasanya telah turun temurun beberapa generasi. Kerajaan baru bisa berupa kerajaan yang memang baru saja berdiri atau berupa gabungan negara bagian ke dalam kekuasaan negara penakluknya. Para penerus kerajaan warisan umumnya tidak akan menemukan kesulitan dalam memerintah. Tugas utama mereka adalah memelihara pranata dan lembaga lama yang masih cocok, kemudian menyesuaikannya dengan kondisi saat itu. Gejolak besar sering terjadi di kerajaan baru, terutama yang merupakan gabungan. Kerajaan baru umumnya terbentuk karena rakyat muak dengan penguasa lama yang bersifat menindas, kemudian memberontak dan menggantikannya dengan raja baru. Namun, umunya penguasa baru tersebut demi mengukuhkan kekuasaannya, justru akan menindas rakyatnya lebih kejam lagi. Rakyat yang merasa terkecoh akan kembali melawan. Berbagai gejolak yang terjadi di kerajaan baru bukan hanya tergantung pada tingkah laku para penguasa baru, tapi memang sifat alamiah dari negara tersebut. Oleh sebab itu, sebelum merebut kekuasaan, sebaiknya calon penguasa mempelajari keadaan negara yang ingin direbutnya.
      Untuk sementara sekian dulu postingan kali ini,  nanti akan dilanjutkan kembali mengenai  tipe penguasa.